Yogyakarta-Parakan Tour

On February 8, 2008,  a team consisted of eleven people (i.e. Aditya DL, Fajar A, Ersta, Ito, Zudi, Yuda, Aryo, Kris, Bagas and Dita, and Anton) gathered at Jombor bus station in Yogyakarta. They were about to participate in a tour which tracked down the inactive Yogyakarta-Parakan line. The tour was arranged by IRPS Yogyakarta.

the wood car near the ex Magelang station

While the team was on the way to Sleman, all eyes were focusing to the left side of the road, trying to locate remains of rail tracks. The team made a brief stop at a police station, which used to be a station.

ex Medari station

Soon after entering Sleman, the team diverted from the main road to Gunung Merapi Street. It used to be a railroad, considering the curve of the street which was typical of a railroad. After passing an underpass, the team stopped to inspect an Alkmaar mechanic home-signal. It still stood firmly. Not far from it was a former station which had become a military base. The team was allowed to take pictures of the station after requesting permission. There were remains of a signal control  at the north-east side of the building, functioning as a remembrance. It was originally located in the train dispatcher room.

ex Mertoyudan station

The team continued the journey to a bridge over the Bedog River. It was a through truss bridge. The team continued the journey to former Sleman shelter. On it was a pyramid-shape monument. Sleman Sembada was written on the monument. The team went into an a passageway then crossed a river through a former rail bridge. There was a yard and there were a station and a storehouse.

ex Tempel station

Former Tempel Station was not far from a market. The station had become a kindergarten, nevertheless there were the writing of  “Pemimpin Perdjalanan KA” (train dispatcher) on the wall, a storehouse, and a water tower. Remains of rails and switches near the storehouse were still visible. Krasak Bridge, which was over Krasak River, lost one of its spans due to lava flood. Therefore, trains from Yogyakarta were only able to reach Tempel Station and unable to continue to Magelang.

ex blabak station

In Magelang, Central Java, the first target to locate was former Tegalsari Station. It had become a food stall which sold soto (spicy soup). Then, the team went to a rail bridge over Pabelan River. It was a deck truss bridge. The local villagers used it to cross the river. The interesting fact of it was its trapezoid-shape structure. The shape made the bridge unique.

ex Tegalsari station

The tour continued to former Blabak Station. It had become a food stall and a place to sell cell phone credits, yet the station location was clearly visible. The station used to have three rail tracks. The emplacement had transformed into a market and a station for local shared-taxis.

from left: Zudi, Ito, Aryo, Aditya Dwi L, Fajar A, Leo K, Anton and Ersta

Former Mertoyudan Station was painted in blue for it used to be an office or storehouse for PDAM. Not far from the station, a home signal was clearly visible. The next station was the former Kebon Polo Station. On the station was a pale green CR car. The logo of Wahana Daya Pertiwi was still intact.

ex Magelang station

While on the way to Secang Station, at Payaman, the team saw a rail track that went through a house’s roof. According to Aditya, actually there was a station in Payaman, but the team were unable to locate it. At 5 p.m., as the rain started falling, the team arrived at former Secang Station. It had at least five tracks. It had become a base for Legiun Veteran Republik Indonesia. In front of it was a military base. The team met a local villager who told of the trains operations in the station in the past. He also said that the local villagers thought the team was conducting a survey to reopen the line. They were afraid to be removed from the site.

ex Secang station

At 6.15 p.m. the team arrived at former Temanggung Station. It had become a local government office. Finally the team arrived at former Parakan Station at 7 p.m. The station was used by property and advertisement subdivision of property section 6 Yogyakarta.

ex Temanggung station

24 thoughts on “Yogyakarta-Parakan Tour”

  1. great..akhirnya aku menemukan web yahng ngulas java rail way…
    aku tinggal di parakan aku inget banget waktu dulu masih SD tiap hari jalan kaki menyusuri rel kereta api dan nyebrang kali galeh melintasi rel kereta menuju sekolah ku yang terletak di luar kot parakan..namun sayang sekarang rail way di parakan udah gak terawat l;agi

    dulu aku juga seriing masuk ke rumah sepur ama temen2 buat main kelerang kita buat lubang yang bisa dimasuki oleh kita anak2..dan menjadikan rumah sepur itu tempat rahasia kita buat bermain..namun sayang sekaragn udah punah tuh peniunggalan belanda…

  2. itu smua ada dmn ya?q setahun ni brd djgja(kul)tp rsa2nya blm prnah liat yang spt itu…i’m love it

  3. saya penggemar peninggalan heritage termasuk kereta api, kebetul-
    an rumah saya dekat eks stas. kebonpolo shg saya tahu btp merana-
    nya sisa gerbong ka yg masih ada. mohon saya diberi info mengenai
    sejarah ka di magelang termasuk bentuk /foto stas. pada masa lalu
    mohon juga info mengenai kegiatan irps jogja dalam waktu dekat
    matur nuwun

  4. jalur kereta yang mati 20 tahun lalu hidup lagi adalah jalur purworejo -kutoarjo…
    semoga yogya- magelang-temanggung hidup lagi
    amin

  5. Wow seru juga. Aku juga pernah tinggal di Jalan Stasiun, Parakan yang mana saat itu stasiun Parakan memang sudah tidak dipakai lagi. Tempat tersebut sangat mengesankan. Tempat pertama kali saya bisa naik sepeda roda dua. Pernah juga dipakai untuk shooting film “Apanya Dong” (sutradara: Abas Akub).

    Di akhir tahun 70-an itu, kami 3 bersaudara juga sempat beberapa kali ‘nyebrang’ kali Galeh lewat ril sepur yang ada. Saat itu rasanya seram-seram menyenangkan. Tapi kalau sekarang membayangkannya saja cukup membuat saya bergidik… wah, benar-benar “Fear Factor” deh!

    Namun sayang tidak terawat. Sepertinya sekarang sudah beralih fungsi menjadi gudang.

    Kok fotonya tidak ada ya?

  6. Mau nambahin lagi….
    Ternyata stasiun yang paling terawat adalah Stasiun Temanggung ya…? TEMANGGUNG is the best!

  7. wah jd inget masa SMP yg tiap hari lewat stasiun Secang klo pulang & pergi sekolah jalan kaki… dah hampir 18 thn aku ga lewat situ jadi kangen nih pengen napak tilas… Nice Pic bos, banyakin lagi ye fotonya, thx

  8. da yg punya foto2 atau file tentang jalur kereta jogja -parakan ga?
    Q pnasaran bgt pgn tau sejarah jaman dulu…

  9. Wah… Hebat juga… Jadi inget ama simbah saya yang duluya masinis yang juga pernah bertugas di daerah Operasi Yogya-Temanggung dengan loko seri B 334…
    Saya berharap semoga seiring dengan bertambah macetnya jalanan oleh karena semakin banyaknya pengguna kendaraan bermotor, Jalur rel yang mati ini daat kembali di fungsikan lagi… toh tanah tempat rel mati itu berada ‘kan masih milik Pemerintah yang dulunya dtangani oeh PJKA… semoga harapan ini bisa menjadi kenyataan…Ok ya…

  10. sudah 8 tahun aku belum menginjak tanah kelahiranju d kranggan temanggung jateng….
    ingin rasanya aku pulang,,,,,aku dah kangen ma kawan dan soudaraku d sana…
    by: agung (ex smk Dr.sutomo)
    singapore 13/12/2009

  11. lebih baik PJKA buat jalur wisata dari YOGYA-TEMANGGUNG ya… jadi stasiun2 tsb dapat di fungsikan lagi……???

  12. mantap bro…. kangen… stasiun medari dulunya kosong tuuh… -yg ku ingat- n masih banyak rel.. rumah depan stasiun dulu gak ada.. apa dah dijual PERUMKA yaa… dr sisi kamera sejauh 100 m lg rel lewat tengah sawah dibuat lebih tinggi –ada gundukan tanah setinggi 2m meter — skrg dah rata sama sawah, rel nya gak ada —kiloin kali yaa– tinggal terowongannya — jadi kaya gawang di tengah sawah, itu 2th yg lalu —- kira2 sekarang masih ada gak ya… insyaAllah klo mudik pengen foto…

  13. kayaknya stasiun yg diblabak bakalan gak ada…soale ada pelebaran jalan..bulan ini,,semoga aj…tidak ikut kegusur…

  14. Yang saya tahu rencana Bapak SBY dan kabinetnya akan menghidupkan jalur mati kereta api Ambarawa – Tuntang – Bringin – Kedungjati, Ambarawa – Secang – Magelang – Temanggung – Parakan – Yogyakarta untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, dan polusi udara. Hidup PT. KAI..!

  15. mungkin bisa membagi info soal pendiri stasiun parakan
    kenapa berhenti di parakan?
    kenapa memilih parakan dengan kontur tanah berbukit??
    dulu untuk mengangkut apa dari dan ke parakan??
    terimakasih…

    Stasiun Parakan didirikan bersamaan dengan pembangunan jalur simpang dari Secang-Temanggung-Parakan. Pembangunan jalur ini selesai secara bertahap. Jalur Secang-Temanggung selesai pada tanggal 03 Januari 1907 sedangkan Temanggung-Parakan selesai pada tanggal 01 Juli 1907. Tadinya jalur ini akan disambungkan dengan jalur Purwokerto-Wonosobo tetapi karena Topografi yang berupa pegunungan dan terdapat dua Gunung yang berdekatan yaitu G. Sindoro dan G. Sumbing, maka Belanda pada waktu itu tidak jadi menghubungkan kedua jalur tersebut. Baik Parakan dan Kota Temanggung sendiri menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi seperti sayuran, tembakau dan lain-lain.

  16. sayang sekali station2 nya tidak terurus……. padahal itu kan bukti sejarah perjalanan kereta api di indonesia

  17. Wah jalur kereta ini kayaknya nggak bakal diaktifkan lagi,, soalnya sepanjang jalur jogja–magelang sudah dilakukan pelebaran jalan,, yang diutamakan daripada menghidupkan jalur ka,, coba anda lihat jalur (jalan raya) magelang — jogja sudah perlebar dan bagus lagi,, beberpa tahun lalu ada rencana menghidupkan jalur itu tapi,, sekarang nggak jadi,, lebih baik jalannya termasuk bekas rel dibuat jalan kendaraaan bermotor saja..

  18. punya kenangan banyak di stasiun Blabak-Muntilan tapi kok stasiun muntilan tidak ada ya gan..padahal bagus lho dulu waktu kecilpernah lihat ada penampungan air raksasa ternyta tempat minumnya kereta…klo sekarang ya kaya POM bensin gitu..

  19. Jd ingat waktu kecil bersepeda ngejar kereta api Blabak-Muntilan.
    Paling asik main di stasiun Muntilan yg skrg sdh jd terminal Bus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>